Skip to main content

Manfaat SSL untuk Website Bisnis

• 4 menit

Manfaat SSL untuk website bisnis: tanpa label Tidak aman di browser, data formulir terenkripsi, dan website siap untuk pembayaran, login, serta iklan.

Manfaat SSL untuk website bisnis dan keamanan data calon pelanggan

Kesan Pertama Dimulai dari Bilah Alamat

Bayangkan seorang calon pelanggan menemukan bisnis Anda di Google. Ia tertarik, menekan tautan, dan hal pertama yang terlihat bukan logo atau penawaran Anda, melainkan tulisan “Tidak aman” di samping alamat website. Ia belum membaca apa pun, tetapi penilaiannya sudah terbentuk.

Situasi seperti ini masih cukup sering ditemukan pada website bisnis yang dibuat bertahun-tahun lalu atau dipasang tanpa pengaturan lengkap. Penyebabnya satu: website belum memakai SSL, sertifikat yang membuat koneksi berjalan lewat HTTPS. Cara kerja dan jenis sertifikatnya sudah dibahas di apa itu SSL dan fungsinya. Yang lebih relevan bagi pemilik bisnis adalah apa yang hilang ketika SSL tidak ada.

Pengunjung Baru Paling Mudah Mundur

Kebanyakan orang tidak paham apa itu enkripsi, dan memang tidak perlu. Yang mereka tangkap sederhana: browser memberi peringatan, berarti ada yang tidak beres. Pelanggan lama yang sudah mengenal Anda mungkin tetap melanjutkan. Pengunjung baru jarang mau mengambil risiko, apalagi ketika pesaing hanya sejauh satu tombol kembali.

Peringatannya juga muncul di saat yang paling tidak menguntungkan. Chrome menampilkan label “Tidak aman” lebih mencolok ketika pengunjung mulai mengetik di formulir pada halaman HTTP. Artinya, tepat ketika seseorang hendak mengirim nama dan nomor teleponnya kepada Anda, browser mengingatkannya untuk berpikir ulang. Perbedaan kedua protokol ini dijelaskan lebih jauh di perbedaan HTTP dan HTTPS.

Data Calon Pelanggan Layak Dilindungi

Setiap formulir kontak di website membawa data orang yang sedang mempertimbangkan membeli dari Anda: nama, nomor WhatsApp, email, kadang detail kebutuhan mereka. Tanpa SSL, data itu berjalan dari perangkat pengunjung ke server sebagai teks biasa. Di Wi-Fi publik seperti kafe, coworking, atau lobi hotel, lalu lintas semacam ini bisa diintip pihak lain di jaringan yang sama.

Bagi bisnis, ini soal tanggung jawab sekaligus kepercayaan. Indonesia sudah memiliki UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, yang mewajibkan pihak pengelola menjaga keamanan data pribadi yang diprosesnya. Memastikan formulir terkirim terenkripsi adalah langkah paling dasar untuk memenuhi kewajiban itu.

Meski begitu, jangan menganggap SSL sebagai pengaman segalanya. Sertifikat melindungi data selama perjalanan, bukan server tempat data disimpan. Pembaruan sistem, kata sandi admin yang kuat, dan backup rutin tetap perlu dijaga.

Tanpa HTTPS, Banyak Fitur Tidak Bisa Dipakai

Alasan praktis lainnya sering baru disadari ketika bisnis mulai berkembang. Hampir semua fitur yang berhubungan dengan uang dan akun pengguna mengandaikan website sudah berjalan di HTTPS.

Kalau suatu saat Anda ingin menerima pembayaran online, standar keamanan industri kartu pembayaran (PCI DSS) mewajibkan data kartu dienkripsi saat melintasi jaringan publik. Halaman checkout tanpa HTTPS tidak memenuhi syarat itu. Kalau website punya halaman login untuk pelanggan atau admin, kata sandi yang dikirim tanpa enkripsi bisa disadap, dan browser akan memberi peringatan tambahan pada kolom kata sandinya.

Hal serupa berlaku saat beriklan. Kebijakan Google Ads mensyaratkan informasi sensitif yang dikumpulkan lewat landing page diproses melalui koneksi aman. Fitur browser modern seperti notifikasi push, akses lokasi, dan pemasangan website sebagai aplikasi di ponsel juga hanya berjalan di halaman HTTPS.

Karena itu, SSL sebaiknya tidak ditunda sampai website terasa “sudah besar”. Memasangnya belakangan berarti mengubah semua alamat dari http ke https dan memasang pengalihan, pekerjaan yang jauh lebih rapi kalau dilakukan sejak awal.

Periksa Tiga Hal Saat Website Diserahkan

Sertifikat yang terpasang belum tentu membuat semua halaman aman. Saat website diserahkan, luangkan beberapa menit untuk memeriksa. Ketik alamat website dengan awalan http dan pastikan otomatis berpindah ke https. Buka beberapa halaman dan pastikan tidak ada peringatan, karena gambar atau skrip yang masih dimuat lewat http bisa memunculkannya walau sertifikat aktif. Terakhir, tanyakan apakah perpanjangan sertifikat berjalan otomatis setelah tahun pertama.

Kalau Anda ingin semua itu sudah beres sejak hari pertama, Roofel menyiapkan website bisnis dengan domain, hosting, dan SSL tahun pertama dalam setiap paket.