Skip to main content

Post WordPress: Bedanya dengan Page, dan Cara Menata Kategori

Post bertambah terus dan tersusun urut waktu; page berdiri sendiri. Ini bedanya, bagian yang perlu diisi tiap menerbitkan, dan cara menata kategori supaya tidak berantakan.

Post WordPress: Bedanya dengan Page, dan Cara Menata Kategori

Post dan Page: Bedanya di Mana

Post adalah tulisan yang bertambah terus dan tersusun urut waktu; page adalah halaman tetap yang berdiri sendiri.

Secara teknis keduanya sama-sama punya alamat sendiri dan disunting dengan editor yang sama. Yang berbeda adalah cara WordPress menatanya:

PostPage
Urutanurut waktu terbitdisusun manual
Kategori dan tagadatidak
Muncul di arsip dan umpanyatidak
Cocok untukartikel, kabar, tulisan berkalatentang, layanan, kontak

Aturan praktisnya: kalau isinya akan bertambah dengan pola yang sama, itu post. Kalau berdiri sendiri dan jarang berubah, itu page.

Bagian yang Perlu Diisi Setiap Menerbitkan

  1. Judul yang menyebut isinya. Ini juga jadi bahan alamat halamannya.
  2. Alamat halaman (permalink). Periksa sebelum menerbitkan — pendek, huruf kecil, tanpa kata sambung yang tidak perlu. Setelah terbit, sebaiknya tidak diubah tanpa memasang pengalihan.
  3. Kategori. Satu saja untuk sebagian besar tulisan. Memasukkan satu tulisan ke lima kategori membuat arsipnya jadi tumpang tindih.
  4. Tag secukupnya, dan hanya kalau memang dipakai untuk navigasi. Tag yang cuma dipakai sekali menghasilkan halaman arsip berisi satu tulisan.
  5. Gambar unggulan dengan ukuran yang wajar.
  6. Judul dan deskripsi untuk hasil pencarian, lewat plugin SEO Anda.

Kategori dan Tag: Yang Sering Berantakan

Ini bagian yang paling sering jadi masalah setelah situs berjalan setahun.

  • Kategori adalah struktur, tag adalah penanda. Kategori sebaiknya sedikit dan stabil; tag boleh lebih banyak tapi tetap harus dipakai berulang.
  • Buat kategori sebelum menulis banyak, bukan sesudah. Merapikan seratus tulisan yang kategorinya kacau jauh lebih mahal daripada menyusunnya di awal.
  • Kategori “Uncategorized” jangan dipakai. Ganti namanya atau pastikan setiap tulisan punya kategori yang benar.
  • Halaman arsip yang isinya satu tulisan lebih baik tidak diindeks — ini bisa diatur lewat plugin SEO.

Status dan Alur Terbit

  • Draf — belum terbit, hanya terlihat oleh yang punya akses.
  • Menunggu tinjauan — untuk alur redaksi dengan penyunting.
  • Terjadwal — terbit otomatis pada waktu yang ditentukan.
  • Pribadi — terbit tapi hanya untuk pengguna yang masuk.
  • Sampah — belum benar-benar terhapus, dan masih bisa dikembalikan.

WordPress juga menyimpan revisi setiap kali Anda menyimpan. Berguna untuk mengembalikan versi sebelumnya, tapi menumpuk di basis data — pada situs yang isinya banyak, ini layak dibatasi.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Mengubah alamat tulisan yang sudah terbit tanpa memasang pengalihan. Setiap tautan lama ke tulisan itu jadi mati.
  • Memakai page untuk isi yang bertambah terus, sehingga tidak ada arsip dan navigasinya harus disusun manual.
  • Membuat kategori baru untuk setiap tulisan.
  • Menghapus tulisan lama yang trafiknya kecil. Kalau isinya masih benar, perbarui; kalau tidak relevan lagi, alihkan ke yang menggantikannya.

FAQ

Berapa kategori yang wajar untuk sebuah blog?

Lima sampai sepuluh untuk sebagian besar blog bisnis. Kalau lebih, biasanya sebagiannya lebih cocok jadi tag.

Apakah tulisan lama perlu dihapus?

Jarang perlu. Perbarui kalau isinya masih dicari, alihkan kalau sudah digantikan tulisan lain, dan biarkan kalau masih benar.

Apakah bisa mengubah post jadi page?

Bisa lewat plugin pengubah tipe konten, tapi alamatnya berubah — jadi tetap perlu pengalihan dari alamat lama.

Gambar dan berkas yang dipakai di dalam post dikelola lewat media library, sementara diskusi pembacanya diatur lewat fitur komentar.

Semakin banyak post dan gambar yang menumpuk, semakin terasa bebannya — langkah penanganannya ada di cara mempercepat web WordPress.