Kenapa Target Audience Perlu Diidentifikasi
Target audience adalah kelompok orang yang paling mungkin membutuhkan produk atau layanan Anda, dan mengidentifikasinya berarti mengganti tebakan “semua orang” dengan gambaran yang bisa dipakai untuk memilih pesan, platform, dan anggaran. Tanpa gambaran itu, konten dibuat untuk selera pembuatnya sendiri, dan iklan menjangkau orang yang tidak pernah akan membeli.
Target audience berbeda dari target market. Target market adalah kelompok pasar luas yang dilayani bisnis, misalnya keluarga muda di Yogyakarta. Target audience lebih sempit dan berubah per kampanye, misalnya ibu yang baru pertama kali mencari katering ulang tahun anak.
Empat Lapis Data yang Perlu Dikumpulkan
Gambaran target audience yang berguna dibangun dari empat lapis data, dari yang paling mudah diukur sampai yang paling sulit.
- Demografi. Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, dan pendidikan. Mudah didapat, tetapi jarang cukup untuk menjelaskan kenapa orang membeli.
- Geografi. Kota, kawasan, dan jarak dari lokasi usaha. Penting untuk usaha yang pembelinya harus datang atau dikirimi barang.
- Psikografi. Minat, nilai, gaya hidup, dan kekhawatiran. Lapis ini yang menentukan nada pesan dan sudut cerita konten.
- Perilaku. Cara mencari informasi, platform yang dipakai, kebiasaan membeli, dan alasan berpindah merek. Lapis ini yang menentukan di mana dan kapan pesan perlu muncul.
Langkah Mengidentifikasi Target Audience
- Mulai dari pelanggan yang sudah ada. Data penjualan, riwayat chat, dan pertanyaan yang sering masuk adalah sumber paling jujur. Catat siapa yang membeli paling sering dan apa yang mereka tanyakan sebelum membeli.
- Tanyakan langsung. Survei singkat lewat Google Forms atau wawancara 15 menit dengan beberapa pelanggan sering membuka alasan yang tidak terlihat di data angka.
- Baca data analitik. Google Analytics dan analitik bawaan media sosial menunjukkan siapa yang benar-benar datang dan berinteraksi, yang sering berbeda dari siapa yang dibayangkan. Cara membacanya ada di social media analytics.
- Dengarkan percakapan di luar akun sendiri. Komentar di akun pesaing, ulasan produk sejenis, grup komunitas, dan forum memperlihatkan keluhan dan kebutuhan yang belum terjawab.
- Periksa apa yang dicari. Google Trends dan alat riset kata kunci menunjukkan bahasa yang dipakai orang saat mencari solusi. Untuk keperluan SEO, prosesnya dibahas di riset target audiens untuk SEO.
- Susun buyer persona. Rangkum temuan menjadi satu sampai tiga gambaran orang, lengkap dengan kebutuhan, keberatan, dan tempat mereka mencari informasi. Persona yang baik bisa ditunjukkan sumber datanya untuk setiap baris.
- Uji, lalu perbarui. Jalankan konten atau iklan kecil untuk setiap persona, lihat mana yang ditanggapi, dan perbarui persona setiap beberapa bulan.
Setelah persona terbentuk, alat untuk melihat jenis konten yang diminati setiap kelompok dibahas di tools untuk mengetahui minat target audience, dan pola kontennya di jenis konten yang diminati target audience.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Target terlalu luas. “Semua orang usia 18 sampai 45 tahun” bukan target audience, melainkan hampir seluruh pengguna internet.
- Persona karangan. Persona yang ditulis dari imajinasi tim, tanpa data pelanggan, menghasilkan konten untuk orang yang tidak ada.
- Hanya memakai demografi. Dua orang dengan usia dan kota yang sama bisa punya alasan membeli yang sangat berbeda.
- Tidak pernah diperbarui. Pembeli berubah seiring waktu, terutama di pasar yang pelanggannya berganti, seperti pasar mahasiswa.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa persona yang sebaiknya dibuat? Untuk usaha kecil, satu sampai tiga persona sudah cukup. Persona yang terlalu banyak sulit dipakai sebagai acuan konten sehari-hari.
Apakah target audience di media sosial sama dengan pembeli? Belum tentu. Pengikut yang paling aktif berinteraksi kadang bukan orang yang membeli. Bandingkan data pengikut dengan data pembeli supaya konten tidak hanya disukai, tetapi juga mendatangkan pesanan. Kerangka besarnya ada di content creation dan strategi konten.