Skip to main content

Dari Riset Audiens ke Strategi Keyword: Cara Menerjemahkannya

Riset audiens sering berhenti jadi dokumen persona yang tidak dipakai. Ini cara menerjemahkannya jadi keputusan keyword yang konkret.

Dari Riset Audiens ke Strategi Keyword: Cara Menerjemahkannya

Masalahnya Bukan Risetnya, Tapi Terjemahannya

Riset audiens berguna untuk SEO hanya kalau tiap temuannya bisa diubah jadi satu keputusan keyword yang konkret — keyword mana yang dikejar, bentuk halaman apa yang dibuat, dan dengan kosakata siapa halaman itu ditulis.

Kenyataannya sebagian besar riset audiens berhenti jadi dokumen persona berisi umur, pekerjaan, dan “tantangan” yang ditulis abstrak. Dokumen itu dibuka sekali saat presentasi, lalu tidak pernah lagi.

Yang hilang bukan datanya, tapi jembatan antara data dan keputusan. Artikel ini soal jembatan itu.

Tiga Temuan yang Benar-Benar Terpakai

Dari sekian banyak hal yang bisa diriset, cuma tiga yang mengubah keputusan keyword:

  • Kosakata yang mereka pakai. Bukan istilah yang pembaca pakai di industri. Klien menyebutnya “bikin website”; pembaca menyebutnya “pengembangan aplikasi web”. Yang dicari di Google adalah yang pertama.
  • Tahap mereka saat mencari. Baru sadar ada masalah, sedang membandingkan solusi, atau sedang memilih vendor. Ini menentukan intent, dan intent menentukan bentuk halaman.
  • Keberatan yang muncul sebelum memutuskan. Harga, lama pengerjaan, risiko salah pilih. Tiap keberatan biasanya punya pencariannya sendiri.

Umur, jenis kelamin, dan hobi hampir tidak pernah mengubah keputusan keyword. Kalau riset audiensmu berhenti di situ, dia memang tidak akan terpakai.

Menerjemahkannya

  1. Kumpulkan kalimat asli, bukan rangkuman. Salin apa adanya dari chat, email, form, dan ulasan. Kalimat asli mengandung kosakata yang tidak akan muncul kalau sudah dirangkum.
  2. Tandai kata benda dan kata kerjanya. Itu bahan mentah keyword-nya. “Website saya nggak muncul di Google” menghasilkan “website tidak muncul di google” — dan itu frasa yang beneran diketik orang.
  3. Petakan tiap kalimat ke tahap. Pertanyaan “kenapa” biasanya tahap awal, “mana yang lebih bagus” tahap tengah, “berapa harganya” tahap akhir.
  4. Cek tiap frasa di Google. Lihat apakah ada yang mencarinya, dan halaman bentuk apa yang menang. Sebagian besar frasa dari kalimat asli akan berupa ekor panjang.
  5. Ubah keberatan jadi halaman. Keberatan yang berulang di tahap akhir hampir selalu layak punya halamannya sendiri, dan halaman itu biasanya paling dekat ke konversi.
  6. Susun jadi peta. Satu baris per frasa: kalimat aslinya, tahapnya, bentuk halaman yang dibutuhkan, dan halaman mana yang akan melayaninya.

Kolom pertama yang sering dianggap remeh. Menyimpan kalimat aslinya membuat penulis nanti tahu harus memakai bahasa siapa.

Contoh Terjemahannya

Satu keluhan pelanggan, tiga keputusan berbeda:

“Dulu pernah pakai jasa SEO, tiga bulan nggak ada hasil, uang hilang.”

  • Kosakata: “jasa SEO tidak ada hasil”, “berapa lama SEO baru kelihatan”
  • Tahap: akhir — sudah pernah membeli, sedang ragu membeli lagi
  • Keberatan: takut membayar tanpa hasil
  • Keputusan: buat halaman yang menjawab berapa lama proses SEO memberi hasil, dengan rentang waktu yang jujur per jenis situs. Bukan artikel tentang “manfaat SEO”.

Perhatikan bahwa keluhan itu tidak menghasilkan satu keyword, tapi satu halaman dengan sudut yang spesifik.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  1. Meriset audiens setelah keyword dipilih. Urutannya terbalik, dan hasilnya riset audiens cuma jadi pembenaran atas keputusan yang sudah diambil.
  2. Memakai bahasa industri di halaman. Halaman yang ditulis dengan istilah internal tidak akan cocok dengan cara audiens mencari.
  3. Membuat persona tanpa berbicara dengan siapa pun. Persona hasil tebakan menghasilkan keyword hasil tebakan.
  4. Mengabaikan keberatan. Padahal itu kelompok pencarian yang paling dekat ke keputusan membeli, dan paling jarang digarap kompetitor.

FAQ

Berapa banyak sumber yang dibutuhkan sebelum risetnya cukup?

Sepuluh sampai dua puluh percakapan nyata biasanya sudah memunculkan pola yang berulang. Setelah itu tambahan sumber jarang mengubah kesimpulan. Yang lebih menentukan bukan jumlahnya, tapi apakah sumbernya percakapan asli atau asumsi.

Bagaimana kalau belum punya pelanggan sama sekali?

Pinjam suara audiens dari tempat lain. Kolom ulasan kompetitor, thread forum, dan pertanyaan di marketplace berisi kalimat asli dari orang yang persis jadi targetmu. Kualitasnya di bawah wawancara langsung, tapi jauh di atas menebak.

Apakah data demografis benar-benar tidak berguna?

Berguna untuk penargetan iklan, bukan untuk memilih keyword. Yang menentukan keyword adalah apa yang mereka cari dan dengan kata apa — dan itu jarang berkorelasi dengan umur atau pekerjaan.


Tahap yang pembaca tandai di langkah ketiga tadi punya kerangkanya sendiri, dijelaskan di search intent dan jenis-jenisnya. Dan kalimat asli dari audiens hampir selalu berbentuk frasa panjang — cara mengumpulkan dan menyaringnya ada di cara identifikasi long tail keyword. Keduanya bermuara ke riset kata kunci.