Kenapa Website Framework Modern Lebih Unggul di Core Web Vitals dan SEO

Roofel Team

Perbandingan performa Core Web Vitals antara website framework modern (Astro, Next.js, Nuxt) vs WordPress, dan bagaimana ini mempengaruhi ranking SEO di Google 2026.

Kenapa Website Framework Modern Lebih Unggul di Core Web Vitals dan SEO

Google menggunakan Core Web Vitals sebagai sinyal ranking sejak 2021, dan di 2026 standarnya makin ketat. Banyak website bisnis di Indonesia masih menggunakan WordPress dengan tema berat dan puluhan plugin — hasilnya skor PageSpeed merah dan user experience yang buruk. Framework modern seperti Astro, Next.js, dan Nuxt.js menawarkan pendekatan yang fundamentally berbeda.

Core Web Vitals 2026: Tiga Metrik yang Harus Dipenuhi

Google mengukur pengalaman pengguna melalui tiga metrik utama yang datanya diambil dari Chrome User Experience Report (CrUX) — artinya ini data real dari pengunjung website teman-teman, bukan simulasi.

LCP (Largest Contentful Paint) mengukur seberapa cepat konten utama halaman terlihat. Target: di bawah 2.5 detik. Ini biasanya elemen terbesar di viewport — bisa hero image, heading utama, atau video. Jika LCP lambat, pengunjung melihat layar kosong terlalu lama dan pergi.

INP (Interaction to Next Paint) mengukur seberapa responsif halaman saat user berinteraksi — klik tombol, buka menu, submit form. Target: di bawah 200 milidetik. INP menggantikan FID (First Input Delay) sejak Maret 2024 dan lebih ketat karena mengukur semua interaksi selama sesi, bukan hanya yang pertama.

CLS (Cumulative Layout Shift) mengukur stabilitas visual — apakah elemen halaman bergeser saat loading. Target: di bawah 0.1. Pernah mau klik tombol tapi tiba-tiba iklan muncul dan halaman bergeser? Itu CLS buruk.

Kenapa WordPress Sering Gagal di Core Web Vitals

WordPress sendiri sebenarnya tidak lambat — yang membuat lambat adalah cara mayoritas website WordPress dibangun: tema multipurpose yang memuat ratusan kilobyte CSS dan JavaScript yang tidak terpakai, 15-30 plugin yang masing-masing menambah HTTP request dan script, page builder seperti Elementor atau Divi yang menghasilkan DOM bloated, serta shared hosting murah yang response time servernya sudah lambat dari awal.

Hasilnya: LCP di atas 4-6 detik di mobile, INP yang gagal karena main thread sibuk menjalankan JavaScript dari puluhan plugin, dan CLS yang berantakan karena iklan, font, dan gambar tanpa dimensi yang loading secara asynchronous.

Bukan berarti WordPress tidak bisa dioptimasi. Bisa — tapi butuh effort signifikan: audit plugin, ganti tema, setup caching, konfigurasi CDN, lazy loading, critical CSS extraction. Dan setelah semua itu, hasilnya masih sering kalah dibanding framework modern yang by default sudah optimal.

Keunggulan Framework Modern untuk Web Vitals

Framework seperti Astro, Next.js, dan Nuxt.js mengambil pendekatan yang berbeda secara arsitektur.

Astro mengirim zero JavaScript ke browser by default. Halaman di-render sebagai HTML statis murni — CSS sudah inline, gambar otomatis dioptimasi, dan tidak ada JavaScript yang blocking render. Hasilnya: LCP bisa di bawah 1 detik, INP nyaris 0 karena tidak ada script yang membebani main thread, dan CLS minimal karena layout sudah fixed saat HTML diterima browser.

Next.js dan Nuxt.js mendukung Server-Side Rendering (SSR) dan Static Site Generation (SSG). Konten sudah di-render di server sehingga browser menerima HTML lengkap — tidak perlu menunggu JavaScript mengisi halaman. Code splitting otomatis memastikan hanya JavaScript yang dibutuhkan halaman tersebut yang dimuat. Image optimization built-in dengan lazy loading dan format modern.

Perbedaan paling mencolok ada di ukuran bundle: halaman WordPress standar bisa mengirim 500KB-2MB JavaScript, sementara halaman Astro sering hanya 0-50KB. Ini bukan teori — teman-teman bisa test sendiri di PageSpeed Insights.

Tips Praktis Optimasi Core Web Vitals

Apapun platform yang teman-teman gunakan, berikut tips yang langsung berdampak:

Untuk LCP: identifikasi elemen LCP di halaman (biasanya hero image atau heading). Jika itu gambar, pastikan menggunakan format WebP atau AVIF, tambahkan atribut width dan height yang eksplisit, gunakan fetchpriority="high" dan loading="eager" pada gambar hero — jangan lazy load elemen di atas fold. Preload font yang digunakan di heading utama.

Untuk INP: kurangi JavaScript yang berjalan di main thread. Audit setiap plugin dan third-party script — hapus yang tidak esensial. Gunakan defer atau async untuk script yang tidak critical. Jika menggunakan framework modern, manfaatkan Islands Architecture (Astro) atau partial hydration untuk memastikan hanya komponen interaktif yang memuat JavaScript.

Untuk CLS: selalu tentukan dimensi gambar dan video secara eksplisit di HTML. Hindari menyisipkan konten di atas konten existing setelah halaman load — termasuk banner, popup, dan iklan. Gunakan font-display: swap dengan fallback font yang ukurannya mirip agar tidak ada layout shift saat custom font dimuat.

Kapan Harus Rebuild ke Framework Modern

Rebuild website bukan keputusan ringan. Tapi ada kondisi di mana mempertahankan WordPress justru lebih mahal dalam jangka panjang: skor PageSpeed konsisten di bawah 50 untuk mobile meskipun sudah dioptimasi, plugin caching dan optimasi sudah maksimal tapi masih gagal Core Web Vitals, website sering down atau lambat karena keterbatasan shared hosting, atau biaya maintenance plugin premium dan hosting yang terus naik.

Jika teman-teman mengalami kondisi ini, rebuild ke framework modern bisa menjadi investasi yang memberikan return jangka panjang — bukan hanya di Core Web Vitals dan SEO, tapi juga di biaya hosting (static hosting jauh lebih murah), keamanan (tidak ada plugin yang bisa di-exploit), dan kecepatan development.

Framework modern juga lebih siap untuk AI search dan GEO karena konten di-render server-side sebagai HTML bersih — mudah di-parse oleh AI crawler tanpa bergantung pada JavaScript execution.

Langkah Pertama: Audit Dulu

Sebelum memutuskan apapun, ukur dulu posisi website teman-teman saat ini. Buka PageSpeed Insights, test 3-5 halaman utama, dan catat skor LCP, INP, dan CLS. Bandingkan dengan target Google: LCP < 2.5 detik, INP < 200ms, CLS < 0.1. Jika sebagian besar halaman gagal di satu atau lebih metrik, mulai identifikasi penyebabnya — apakah gambar terlalu besar, JavaScript terlalu banyak, atau server terlalu lambat.

Teman-teman bisa melakukan audit ini sendiri, atau konsultasikan dengan tim SEO profesional yang bisa memberikan rekomendasi teknis spesifik berdasarkan kondisi website saat ini — termasuk apakah optimasi di platform existing sudah cukup atau rebuild ke framework modern diperlukan.

Butuh Bantuan Digital Marketing?

Tim ahli Roofel siap membantu mengembangkan bisnis Anda

Konsultasi Gratis