Skip to main content

Personal Branding dan Networking dalam Social Media Marketing

•
• 5 menit

Pengertian personal branding di media sosial, cara membangunnya langkah demi langkah, cara memperluas networking, dan alasan keduanya perlu dijalankan bersamaan.

Personal Branding dan Networking dalam Social Media Marketing

Personal Branding di Media Sosial

Personal branding di media sosial adalah upaya membentuk cara orang mengenal seseorang, terutama keahliannya, lewat profil, konten, dan interaksi yang konsisten. Berbeda dengan brand bisnis yang mewakili perusahaan, personal branding melekat pada individu, misalnya pemilik usaha, konsultan, atau tenaga profesional.

Personal branding relevan untuk bisnis karena orang sering lebih mudah percaya pada manusia di balik sebuah usaha daripada pada logo. Pendiri yang dikenal ahli di bidangnya ikut menaikkan kepercayaan pada perusahaannya. Personal branding juga bagian dari social media presence secara umum, hanya saja subjeknya orang, bukan perusahaan.

Cara Membangun Personal Branding di Media Sosial

Personal branding dibangun dengan menentukan posisi lebih dulu, baru kemudian merapikan profil, membuat konten, dan berinteraksi secara konsisten. Urutan ini mencegah akun berisi konten yang ramai tetapi tidak menunjukkan keahlian apa pun.

  1. Tentukan posisi. Pilih satu bidang keahlian dan audiens yang ingin dijangkau. Kalimat sederhana seperti “membantu siapa, dalam hal apa” sudah cukup sebagai pegangan. Kalau audiens belum jelas, mulai dari cara mengidentifikasi target audience yang tepat.
  2. Pilih platform utama. LinkedIn cocok untuk audiens profesional dan B2B, sedangkan Instagram dan TikTok lebih cocok untuk audiens konsumen. Satu platform yang dikelola serius lebih berguna daripada lima platform yang terbengkalai.
  3. Rapikan profil. Foto, nama, bio, dan tautan dibuat konsisten di semua akun. Bio menjawab pertanyaan pertama pengunjung: orang ini ahli di bidang apa.
  4. Buat konten dari keahlian sendiri. Bagikan cara kerja, pelajaran dari pekerjaan, pendapat tentang isu di industri, dan jawaban atas pertanyaan yang sering muncul. Konten seperti ini sulit ditiru karena berasal dari pengalaman sendiri. Prinsip perencanaannya dibahas di strategi content creation.
  5. Berinteraksi. Balas komentar, jawab pesan, dan ikut berdiskusi di akun orang lain. Personal branding terbentuk dari percakapan, bukan hanya dari unggahan.
  6. Evaluasi berkala. Lihat konten mana yang mendatangkan pengikut, pesan, atau tawaran kerja sama, lalu perbanyak topik serupa. Cara membaca datanya ada di cara menganalisis data social media.

Cara Membangun Networking Lewat Media Sosial

Networking di media sosial adalah membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan orang lain di industri yang sama atau berdekatan. Hubungan ini membuka peluang kolaborasi, rekomendasi, dan pertukaran pengetahuan yang sulit didapat dari konten saja.

  • Komentar yang berisi. Komentar yang menambahkan sudut pandang lebih diingat daripada sekadar “setuju” atau emoji.
  • Komunitas dan grup. Grup LinkedIn, grup Facebook, dan forum industri mempertemukan orang dengan minat yang sama. Pengelolaan ruang seperti ini dibahas di community management.
  • Kolaborasi. Live bersama, konten kolaborasi, atau proyek kecil dengan kreator dan profesional lain memperkenalkan Anda ke audiens mereka. Kerja sama berbayar dengan kreator masuk ke wilayah influencer marketing.
  • Acara dan webinar. Hubungan yang dimulai di acara daring atau luring lebih mudah dilanjutkan lewat media sosial setelahnya.

Pembahasan khusus platform profesional ada di LinkedIn marketing.

Kenapa Personal Branding dan Networking Perlu Berjalan Bersama

Personal branding membuat orang tahu siapa Anda, sedangkan networking membuat orang yang tepat ikut melihatnya. Personal branding tanpa jaringan sering hanya dibaca lingkaran kecil, dan networking tanpa personal branding membuat kenalan baru tidak punya alasan untuk mengingat Anda.

Kedua kegiatan ini juga saling memberi bahan. Diskusi dengan jaringan memunculkan ide konten, dan konten yang bagus memancing orang baru untuk menyapa. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah baru aktif menghubungi orang saat sedang butuh sesuatu. Jaringan yang berguna dibangun jauh sebelumnya, dengan lebih banyak memberi daripada meminta.

Bagi pemilik usaha, hasil keduanya mengalir ke bisnis. Orang yang sudah mengenal keahlian pemiliknya cenderung lebih mudah percaya ketika bertemu brand usahanya di social media marketing atau di mesin pencari.