Cara Riset Tren Social Media Marketing
Riset tren social media marketing dilakukan dengan memantau apa yang sedang ramai di platform, mengecek apakah minatnya juga naik di pencarian, lalu mencocokkannya dengan audiens dan data akun sendiri. Urutan ini penting karena tren yang ramai belum tentu relevan untuk bisnis Anda.
Riset tren adalah bagian dari perencanaan social media marketing yang dilakukan berkala, bukan sekali jalan. Berikut langkahnya.
1. Tentukan Lingkup Riset
Lingkup riset ditentukan oleh tiga hal: industri, audiens, dan platform yang Anda pakai. Tren di TikTok berbeda dengan tren di LinkedIn, dan tren di kalangan remaja berbeda dengan tren di kalangan pemilik usaha. Kalau profil audiens belum jelas, mulai dari cara mengidentifikasi target audience yang tepat.
2. Pantau Fitur Trending di Setiap Platform
Setiap platform punya penanda trennya sendiri. TikTok menyediakan Creative Center yang memuat hashtag, lagu, dan kreator yang sedang naik. Instagram menandai audio Reels yang sedang ramai dengan label trending, dan X punya daftar Trending di halaman Explore.
Penanda ini perlu dicek beberapa kali seminggu, karena umur tren di media sosial sering hanya hitungan hari. Cara kerja tiap platform dibahas lebih rinci di TikTok marketing dan Instagram marketing.
3. Cek Minat Pencarian di Google Trends
Google Trends menunjukkan apakah sebuah topik juga dicari orang di luar media sosial. Topik yang naik di Google Trends sekaligus ramai di platform punya minat yang lebih luas daripada sekadar viral sesaat. Cara membaca grafiknya ada di artikel Google Trends.
4. Dengarkan Percakapan Audiens
Percakapan audiens ada di kolom komentar, pesan masuk, grup Facebook, forum, dan ulasan produk. Pertanyaan yang muncul berulang kali sering lebih berguna daripada tren besar, karena langsung menunjukkan kebutuhan orang yang sudah dekat dengan bisnis Anda.
Untuk skala lebih besar, alat social listening membantu merekam penyebutan brand dan topik tertentu di banyak akun sekaligus. Polling dan stiker pertanyaan di Stories juga cara cepat untuk bertanya langsung.
5. Amati Kompetitor dan Kreator di Niche Anda
Kompetitor dan kreator di niche yang sama menunjukkan tren mana yang sudah diterapkan dan bagaimana audiens meresponsnya. Perhatikan format yang dipakai, topik yang mendapat banyak komentar, dan konten yang justru sepi. Tujuannya membaca pola, bukan meniru konten.
6. Cocokkan dengan Data Akun Sendiri
Data akun sendiri menjadi penentu terakhir. Lihat format dan topik yang selama ini menghasilkan reach, simpan, dan klik paling tinggi, lalu bandingkan dengan tren yang ditemukan. Langkah membaca datanya ada di cara menganalisis data social media, dan alat bantunya di tools untuk mengetahui minat target audience.
7. Uji dalam Skala Kecil
Tren yang lolos penyaringan diuji dulu lewat beberapa konten, bukan langsung mengubah seluruh kalender konten. Bandingkan hasilnya dengan rata-rata konten biasa, lalu putuskan apakah tren itu diteruskan atau ditinggalkan.
Kenapa Riset Tren Perlu Dilakukan
Riset tren perlu dilakukan karena cara orang memakai media sosial terus bergeser, sementara strategi yang tidak diperbarui pelan-pelan kehilangan jangkauan. Pergeseran ini terlihat di tiga sisi.
- Format konten. Platform mendorong format tertentu, seperti video pendek di Reels, TikTok, dan YouTube Shorts. Konten di format lama tetap bisa berjalan, tetapi jangkauannya sering lebih kecil.
- Perilaku audiens. Banyak orang kini mencari rekomendasi produk dan tempat langsung di TikTok atau Instagram, tidak hanya di Google. Belanja juga makin sering terjadi di dalam aplikasi, misalnya lewat TikTok Shop.
- Peluang baru. Tren bisa memunculkan ide kampanye, sudut konten, bahkan kebutuhan produk yang belum terlayani.
Hasil riset tren juga berguna untuk iklan. Materi iklan yang memakai format dan bahasa yang sedang akrab bagi audiens lebih mudah menyatu dengan konten di sekitarnya.
Tren yang Layak Diikuti dan yang Sebaiknya Dilewati
Tren layak diikuti kalau relevan dengan audiens, cocok dengan karakter brand, dan bisa dikerjakan sebelum masanya lewat. Ketiga syarat ini menyaring sebagian besar tren yang lewat di beranda.
Relevansi dengan audiens paling sering diabaikan. Tren yang ramai di kalangan remaja tidak banyak membantu bisnis yang menjual jasa ke perusahaan. Karakter brand juga perlu dijaga, karena humor yang cocok untuk kedai kopi bisa terasa janggal untuk klinik atau kantor konsultan. Waktu menjadi syarat terakhir: audio atau meme yang baru dikerjakan seminggu kemudian sering sudah tidak dikenali.
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah mengikuti semua tren tanpa penyaringan, sehingga akun terlihat ramai tetapi tidak punya ciri. Tren membantu konten ditemukan, sedangkan audiens bertahan karena konten lainnya juga berguna. Karena itu, tren yang lolos penyaringan tetap dikemas di dalam strategi content creation yang konsisten.