Skip to main content

Otomatisasi Digital Marketing: Manfaat, Contoh Penerapan, dan Alatnya

•
• 5 menit

Otomatisasi digital marketing adalah pemakaian software untuk menjalankan tugas pemasaran berulang. Pahami manfaatnya, contoh penerapan seperti penjadwalan konten dan email otomatis, alat yang umum dipakai, serta batasnya.

Otomatisasi Digital Marketing: Manfaat, Contoh Penerapan, dan Alatnya

Pengertian Otomatisasi dalam Digital Marketing

Otomatisasi digital marketing, atau marketing automation, adalah pemakaian software untuk menjalankan tugas pemasaran yang berulang secara otomatis berdasarkan jadwal atau pemicu tertentu. Contohnya unggahan yang terbit sendiri sesuai jadwal, atau email sambutan yang terkirim begitu seseorang mendaftar.

Otomatisasi bekerja dengan aturan sederhana: jika sesuatu terjadi, lakukan tindakan tertentu. Pemicunya bisa waktu, misalnya setiap Senin pukul 09.00, atau tindakan pengguna, misalnya mengisi formulir atau meninggalkan keranjang belanja.

Otomatisasi tidak menggantikan strategi digital marketing. Otomatisasi hanya menjalankan strategi yang sudah ada dengan lebih konsisten dan lebih hemat tenaga.

Manfaat Otomatisasi Digital Marketing

Manfaat utama otomatisasi adalah menghemat waktu tim, menjaga konsistensi, mempercepat respons, dan membuat pesan lebih sesuai dengan perilaku tiap orang.

  • Hemat waktu. Tugas seperti mengunggah konten, mengirim email rutin, dan menyusun laporan tidak perlu dikerjakan manual setiap kali. Tim bisa memakai waktunya untuk merencanakan dan membuat konten.
  • Konsistensi. Konten tetap terbit sesuai jadwal walau tim sedang sibuk atau libur.
  • Respons cepat. Pertanyaan umum dijawab otomatis di luar jam kerja, sehingga calon pembeli tidak menunggu sampai besok.
  • Pesan yang lebih relevan. Email dan pesan bisa dikirim berdasarkan tindakan seseorang, misalnya produk yang dilihat, bukan disebar sama ke semua orang.

Contoh Penerapan Otomatisasi

Penerapan otomatisasi yang paling umum adalah penjadwalan konten, rangkaian email otomatis, balasan pesan otomatis, dan laporan berkala.

  1. Penjadwalan konten media sosial. Konten satu minggu atau satu bulan dibuat sekaligus, lalu dijadwalkan terbit pada jam audiens paling aktif. Cara ini juga memberi waktu untuk memeriksa konten sebelum terbit. Perencanaan isinya dibahas di strategi content creation.
  2. Rangkaian email otomatis. Email sambutan untuk pendaftar baru, pengingat keranjang yang ditinggalkan, dan email lanjutan setelah pembelian. Pembahasan kanalnya ada di email marketing.
  3. Balasan pesan otomatis. Pesan sambutan dan balasan di luar jam kerja di WhatsApp Business, atau balasan otomatis untuk pertanyaan yang sering muncul di Instagram dan Facebook.
  4. Laporan berkala. Dashboard yang menarik data dari beberapa platform dan diperbarui sendiri, sehingga laporan bulanan tidak perlu disusun ulang dari nol. Metrik yang perlu ada di laporan dibahas di social media analytics dan metrics.

Alat Otomatisasi yang Umum Dipakai

Alat otomatisasi bisa dikelompokkan menurut tugasnya: penjadwalan media sosial, email, dan platform lengkap yang menggabungkan keduanya.

  • Penjadwalan media sosial. Meta Business Suite untuk Facebook dan Instagram tersedia gratis. Buffer, Hootsuite, Later, dan Sprout Social mendukung lebih banyak platform sekaligus dan menyediakan analitik.
  • Email. Mailchimp dan layanan sejenis menyediakan rangkaian email otomatis berdasarkan pemicu.
  • Platform lengkap. HubSpot menggabungkan email, media sosial, formulir, dan CRM dalam satu sistem, cocok untuk bisnis yang proses penjualannya panjang.

Untuk bisnis yang baru mulai, fitur penjadwalan bawaan platform biasanya sudah cukup. Alat berbayar baru terasa manfaatnya saat akun dan kanal yang dikelola makin banyak. Contoh pemakaian alat lainnya ada di contoh penggunaan tools dalam strategi pemasaran.

Batas Otomatisasi yang Perlu Dijaga

Otomatisasi cocok untuk tugas yang berulang, tetapi tidak untuk percakapan yang butuh pertimbangan manusia. Keluhan, pertanyaan rumit, dan calon pembeli yang sudah siap membeli sebaiknya cepat dialihkan ke orang sungguhan.

Balasan otomatis yang terlalu umum justru membuat audiens merasa diabaikan. Pengelolaan percakapan dengan audiens tetap menjadi tugas community management.

Jadwal konten juga perlu dipantau. Unggahan promosi yang sudah dijadwalkan bisa terasa tidak pantas kalau terbit saat ada kabar duka atau isu besar, jadi tetap perlu ada orang yang mengecek kalender konten secara berkala.